Lokasi Kerajaan
Kerajaan
Bali terletak di pulau Bali. Pada perkembangannya hubungan Bali sangat erat
dengan Jawa karena letaknya yang berdekatan
Sumber Sejarah
- Prasasti Sanur (839 C/917 M)
- Prasasti Calcuta, India (1042 M)
- Komplek Candi Gunung Kawi
Bidang Politik
Raja-raja
yang pernah memerintah Kerajaan Bali antara lain sebagai berikut.
1) Sri Kesari Warmadewi
Berdasarkan
Prasasti Blanjong yang berangka tahun 914. Istananya berada di Singhadwalawa
2)
Ratu Sri Ugrasena
Raja
berikutnya adalah Sang Ratu Sri Ugrasena. Ia memerintah tahun 915–942,
istananya berada di Singhamandawa. Sang Ratu Sri Ugrasena meninggalkan sembilan
prasasti. Pada umumnya, prasasti itu berisi tentang pembebasan pajak pada
daerah-daerah tertentu. Selain itu, ada juga prasasti yang memberitakan tentang
pembangunan tempat-tempat suci. Setelah wafat, Sang Ratu Sri Ugrasena
didharmakan di Air Mandatu.
3)
Tabanendra Warmadewa
Raja ini
yang memerintah tahun 955–967 M.
4)
Jayasingha Warmadewa
Ada yang
menduga bahwa Jayasingha Warmadewa bukan keturunan Tabanendra karena pada tahun
960 M (bersamaan dengan pemerintahaan Tabanendra) Jayasingha Warmadewa sudah
menjadi raja. Akan tetapi, mungkin juga ia adalah putra mahkota yang telah
diangkat menjadi raja sebelum ayahnya turun takhta. Raja Jayasingha telah
membuat telaga (pemandian) dari sumber suci di Desa Manukraya. Pemandian itu
disebut Tirta Empul yang terletak di dekat Tampaksiring. Raja Jayasingha
Warmadewa memerintah sampai tahun 975 Masehi.
5)
Jayashadu Warmadewa
Janasadhu
Warmadewa. Ia memerintah tahun 975–983.
6)
Sri Wijaya Mahadewi
Pada tahun
983 M muncul seorang raja wanita, yaitu Sri Maharaja Sri Wijaya Mahadewi.
Menurut Stein Callenfels, ratu itu berasal dari Kerajaan Sriwijaya. Namun,
Damais menduga bahwa ratu itu adalah putri Empu Sindok (Jawa Timur). Hal ini
didasarkan atas nama-nama jabatan dalam Prasasti Ratu Wijaya sendiri yang sudah
lazim disebut dalam prasasti di Jawa, tetapi tidak dikenal di Bali, seperti
makudur, madihati, dan pangkaja.
7)
Dharma Udayana Warmadewa
Peda
pemerintahan Udayana, kerajaan Bali mengalami kejayaan. Ia memerintah bersama
permaisurinya, yaitu Mahendradatta, anak dari Raja Makutawangsawardhana dari
Jawa Timur. Sebelum naik takhta diperkirakan Udayana berada di Jawa Timur sebab
namanya tercantum dalam Prasasti Jalatunda.
Setelah
pernikahan itu, pengaruh kebudayaan Jawa di Bali makin berkembang. Misalnya,
bahasa Jawa Kuno mulai digunakan untuk penulisan prasasti dan pembentuk dewan
penasihat seperti di pemerintahan kerajaankerajaan Jawa mulai dilakukan.
Udayana
memerintah bersama permaisurinya hingga tahun 1001 M karena pada tahun itu
Gunapriya mangkat dan didharmakan di Burwan. Udayana meneruskan pemerintahannya
hingga tahun 1011 M. Setelah mangkat, ia dicandikan di Banuwka. Hal ini
didasarkan pada Prasasti Air Hwang (1011) yang hanya menyebut nama Udayana
sendiri. Menurut Prasasti Ujung (Hyang), Udayana setelah mangkat dikenal
sebagai Batara Lumah di Banuwka. Raja Udayana mempunyai tiga orang putra, yaitu
Airlangga, Marakata, dan Anak Wungsu. Airlangga tidak pernah memerintah di Bali
karena menjadi menantu Dharmawangsa di Jawa Timur.
8)
Maraka
Marakata
bergelar Dharmawangsawardhana Marakata Pangkajasthana Uttunggadewa. Marakata
memerintah dari tahun 1011 hingga 1022. Masa pemerintahan Marakata sezaman
dengan Airlangga.
Karena
persamaan unsur nama dan masa pemerintahannya, Stutterheim berpendapat bahwa
Marakata sebenarnya adalah Airlangga. Apalagi jika dilihat dari kepribadian dan
cara memimpin yang memiliki kesamaan. Marakata dipandang sebagai sumber
kebenaran hukum yang selalu melindungi dan memperhatikan rakyat. Oleh karena
itu, Marakata disegani dan ditaati oleh rakyatnya. Selain itu, Marakata juga
turut membangun sebuah presada atau candi di Gunung Kawi di daerah
Tampaksiring, Bali.
9)
Anak Wungsu
Ia bergelar
Paduka Haji Anak Wungsu Nira Kalih Bhatari Lumah i Burwan Bhatara Lumah i Banu
Wka. Anak Wungsu adalah Raja Bali Kuno yang paling banyak meninggalkan prasasti
(lebih dari 28 prasasti) yang tersebar di Bali Utara, Bali Tengah, dan Bali
Selatan. Anak Wungsu memerintah selama 28 tahun dari tahun 1049–1077. Anak
Wungsu dianggap sebagai penjelmaan Dewa Wisnu. Anak Wungsu tidak memiliki
keturunan. Baginda mangkat pada tahun 1077 dan dimakamkan di Gunung Kawi (dekat
Tampaksiring)
10)
Jaya Sakti
Jayasakti
memerintah dari tahun 1133–1150 M dan sezaman dengan pemerintahan Jayabaya di
Kediri. Dalam menjalankan pemerintahannya, Jayasakti dibantu oleh penasihat
pusat yang terdiri atas para senapati dan pimpinan keagamaan baik dari Hindu
maupun Buddha. Kitab undang-undang yang digunakan adalah kitab Utara Widdhi
Balawan dan kitab Rajawacana.
11)
Bedahulu
Memerintah
tahun 1343 M adalah Sri Astasura Ratna Bhumi Banten. Raja Bedahulu dibantu oleh
kedua patihnya, Kebo Iwa dan Pasunggrigis. Ia adalah raja terakhir karena pada
masa pemerintahannya Bali ditaklukkan oleh Gajah Mada dan menjadi wilayah taklukan
Kerajaan Majapahit.
Bidang Sosial Budaya
Struktur
masyarakat yang berkembang pada masa Kerajaan Bali Kuno didasarkan pada hal
sebagai berikut.
- Sistem Kasta (Caturwarna)
Sesuai
dengan kebudayaan Hindu di India, pada awal perkembangan Hindu di Bali sistem
kemasyarakatannya juga dibedakan dalam beberapa kasta. Namun, untuk masyarakat
yang berada di luar kasta disebut budak atau njaba.
- Sistem Hak Waris
Pewarisan
harta benda dalam suatu keluarga dibedakan atas anak laki-laki dan anak
perempuan. Anak laki-laki memiliki hak waris lebih besar dibandingkan anak
perempuan.
- Sistem Kesenian
Kesenian
yang berkembang pada masyarakat Bali Kuno dibedakan atas sistem kesenian
keraton dan sistem kesenian rakyat.
- Agama dan Kepercayaan
Masyarakat
Bali Kuno meskipun sangat terbuka dalam menerima pengaruh dari luar, mereka
tetap mempertahankan tradisi kepercayaan nenek moyangnya. Dengan demikian, di
Bali dikenal ada penganut agama Hindu, Buddha, dan kepercayaan animisme.
Masyarakat
Bali Kuno juga hidup dalam keteraturan dan taat menjalankan hukum. Hal itu juga
disebabkan oleh keteladanan para pemimpin negara yang taat hukum. Bahkan, pada
masa pemerintahan Raja Sri Jayaksati yang sezaman dengan masa pemerintahan raja
Jayabaya dari Kediri, raja sangat patuh pada hukum yang berlaku, Raja
melaksanakan pemerintahan berdasarkan kitab Undang-Undang Uttara Widdhi Balawan
dan Rajawacana.
Ada hal yang
menarik dalam sistem keluarga Bali yang berkaitan dengan pemberian nama anak,
misalnya Wayan, Made, Nyoman, dan Ketut. Kehidupan sosial dalam masyarakat
Bali, yaitu masyarakat terbagi dalam kasta-kasta yang disebut caturwarna.
Kehidupan
kebudayaan lain yang juga sampai pada kita sekarang adalah peninggalan berupa
candi, prasasti, dan pura. Contoh prasasti peninggalan Kerajaan Bali, antara
lain Prasasti Blanjong (tahun 914 M) dan Prasasti Air Hwang (1011). Peninggalan
kebudayaan Kerajaan Bali yang lain adalah kelompok Candi Padas di Gunung Kawi
dan Pura Agung Besakih.
Bidang Ekonomi
Kegiatan
ekonomi masyarakat Bali dititikberatkan pada sektor pertanian. Hal itu
didasarkan pada beberapa prasasti Bali yang memuat hal-hal yang berkaitan
dengan kehidupan bercocok tanam. Beberapa istilah itu, antara lain sawah,
parlak (sawah kering), kebwan (kebun), gaga (ladang), dan kasuwakan (irigasi).
Di luar
kegiatan pertanian pada masyarakat Bali juga ditemukan kehidupan sebagai
berikut.
Pande (Pandai = Perajin)
Mereka
mempunyai kepandaian membuat kerajaan perhiasan dari bahan emas dan perak,
membuat peralatan rumah tangga, alat-alat pertanian, dan senjata.
Undagi
Mereka
mempunyai kepandaian memahat, melukis, dan membuat bangunan.
Pedagang
Pedagang
pada masa Bali Kuno dibedakan atas pedagang laki-laki (wanigrama) dan pedagang
perempuan (wanigrami). Mereka sudah melakukan perdagangan antarpulau (Prasasti
Banwa Bharu)
